Rabu, 15 Februari 2012

Shahabat Nabi SAW Meluruskan Penyelewengan


Meluruskan penyeleweng dan membela agama Allah termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama, karena di sini terdapat perjuangan besar untuk menegakkan yang haq, menumbang-kan penyelewengan, menyingkap tabir syubhat dan sekaligus nasehat kepada kaum muslimin, mencintai dan membela mereka. 

Para shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam selaku orang-orang yang paling dalam ilmunya, paling sempurna pengetahuannya tentang apa yang dinamakan kebaikan dan keburukan, dan paling faham tentang tingkatan amal shaleh mereka semua memberikan perhatian serta perjuangan yang besar dan perilaku yang terpuji dalam melawan kebid'ah-an dan membela Sunnah Nabawiyah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah: "Para shahabat adalah orang yang paling besar keimanan dan perjuangannya dibanding orang-orang yang setelahnya, hal ini karena kesempurnaan pengetahuan dan rasa cinta mereka terhadap kebaikan, juga karena fahamnya mereka terhadap keburukan serta kebencian mereka terhadapnya". Sampai pada ucapan beliau: "Demikian pula orang yang pernah terjun dan berkecimpung bersama ahli bid'ah dan maksiat, lalu Allah memberinya petunjuk sehingga bertaubat dan memberinya kekuatan untuk berjuang di jalanNya, maka perjuangan dan segala usaha untuk menjelaskan keburukan yang pernah ia lakukan dan memeranginya adalah lebih utama dibanding selainnya. Berkata Na'im bin Hammad Al-Khaza'i seorang yang sangat anti Jahmiyah: "Aku adalah orang yang sangat keras terhadap mereka, karena dulunya aku bagian dari mereka." ( Majmu' Al-Fatawa 10/301, 303).

Metode Shahabat Dalam Meluruskan Penyeleweng

1. Meniru cara dan sikap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam dalam menghadapi penyeleweng.

Ini ditunjukkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallaahu anhu , bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam keluar rumah sedangkan orang-orang ketika itu sedang memperbincangkan masalah qadar (takdir), maka spontan saja merahlah muka beliau seperti rona buah delima yang merekah karena kemarahan yang besar, lalu bersabda:
"Ada apa kalian semua ini, saling mempertentangkan kitabullah antara yang satu dengan yang lain? Karena masalah inilah orang-orang sebelum kalian menjadi celaka!" Berkata Abdullah bin Amr: "Maka tiadalah keinginan bagiku untuk tidak menghadiri majlis Rasulullah selain daripada majlis ini, rasanya ingin aku untuk tidak berada ditempat itu". [HR Ahmad 2/78, Ibnu Majah (85)].

Cara ini ditiru oleh Abdullah bin Umar bin Khathab Radhiallaahu anhu tatkala sampai kepadanya perihal sekelompok orang yang ingkar takdir maka iapun marah besar, hingga perawi mengatakan: "Andai saja aku tidak menanyakan hal ini kepadanya"(Ushul-Al Lalikai 3/588).

Demikian pula Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu ketika diberitahu tentang seorang yang mendustakan takdir ia langsung berkata: "Tunjukkan kepadaku orang itu!" Padahal waktu itu beliau dalam keadaan buta, maka orang-orang lalu bertanya: "Apa yang mau anda lakukan terhadap orang tersebut?" Beliau menjawab: "Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya jika aku mampu maka akan aku gigit hidungnya hingga putus atau kalau aku bisa memegang lehernya maka aku akan memukulnya". (Ushul Al Lalikai 3/625 dan As Sunnah Abdullah bin Imam Ahmad 2/416).

2. Ketika meluruskan penyeleweng tergabung dalam diri para shahabat antara ilmu dan amal dengan cinta dan belas kasih.

Abu Umamah Al Bahiliy salah seorang yang selalu mengatakan kebenaran dan penyayang terhadap sesama makhluk, suatu ketika ia meli-hat tujuh puluh kepala orang Khawarij yang terpenggal dan diletakkan di tangga-tangga kota Damaskus, ia teriakkan kebenaran di hadapan orang-orang: "Subhanallah! Apa yang diperbuat oleh syetan untuk menyesatkan anak Adam, anjing-anjing Jahannam, benar-benar suatu kematian yang buruk dan tragis!" Lalu ia berkata kapada salah seorang temannya : "Sungguh kamu berada di bumi yang banyak dihuni oleh orang-orang seperti mereka, mudah-mudahan Allah men-jagamu dari mereka", lalu ia menangis seraya mengatakan: "Aku menangis karena kasihan kepada mereka yaitu ketika aku melihat mereka dulunya adalah orang Islam." (Al Fath Ar Rabbaniy-As Sa'aty 23/160, As Sunnah-Abdullah bin Imam Ahmad 2/644, Al I'tisham-Asy Syatibi 1/71-73, Al Adab Asy Syar'iyyah-Ibnu Muflih 2/24).

3. Seia sekata dalam masalah aqidah dan selainnya baik lafal maupun makna.

Tidak terlihat di antara mereka perselisihan pendapat sehingga ketika mereka ditanya tentang suatu masalah maka jawaban yang mereka berikan rata-rata sama. Sebagai contoh apa yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Ad Dailamiy, ia berkata: "Aku pernah mendatangi Ubay bin Ka'ab dan bertanya: "Wahai Abul Mundzir! Sungguh di hatiku ada yang mengganjal dari perkara takdir, maka sampaikanlah kepadaku sesuatu yang dengannya mudah-mudahan Allah melenyapkan keraguanku itu!" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala jika mengadzab penduduk langit dan bumi maka Dia mengadzabnya dengan tanpa menzhalimi sedikitpun, dan jikalau mencurahkan rahmatNya maka rahmatNya itu lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Meskipun kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud dijalan Allah maka Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman terhadap takdir dan engkau tahu bahwa apa saja yang menimpamu pasti tidak akan meleset dan apa saja yang luput darimu pasti tidak akan menimpa, jikalau kamu mati tidak dalam keadaan demikian maka akan masuk neraka, cobalah kau tanyakan masalah ini kepada Ibnu Mas'ud! Maka aku mendatangi Abdullah Ibnu Mas'ud dan ternyata jawaban yang diberikan sama, lalu Ibnu Mas'ud berkata: "Datanglah kamu kepada Hudzaifah Ibnul Yaman"! Maka akupun mendatanginya dan bertanya ternyata jawabannya juga sama seperti tadi, Hudzaifah lalu berkata: "Temuilah Zaid bin Tsabit!" maka akupun mendatanginya dan dijawab olehnya sebagaimana jawaban di atas. (Riwayat Ahmad 5/182), lihat juga As Sunnah –Abdullah bin Imam Ahmad 2/388 dan Ushul Al Lalikai 3/612, 673.

4. Ilmu yang mendalam merupakan dasar untuk menyikapi orang-orang yang menyimpang.

Sehingga kalimat yang disampaikan meskipun terlihat ringkas namun mengandung banyak pengertian dan faidah, dan di sini nampak sekali keluasan sikap dan keadilan mereka dalam menyikapi persoalan demi persoalan. Ini sebagaimana yang terungkap dari ucapan shahabat Umar ra dalam menyikapi orang Nashara ia berkata: "Hinakanlah mereka dan jangan menzhalimi mereka, sungguh mereka telah mencela Allah dengan celaan yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun". (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim ta'liq Muhammad Afifi 2/398). Dalam hal ini ucapan beliau "Hinakanlah mereka" menunjukkan sikap bara' dan benci kepada orang kafir. Sedangkan ucapan beliau, "Janganlah menzhalimi mereka" menunjukkan sikap adil terhadap mereka.

Maka di sini shahabat Umar mem-bedakan antara pergaulan secara baik terhadap orang kafir dengan sikap benci terhadap mereka yang mana kedua hal ini tidak boleh bercampur jadi satu, maksudnya jangan sampai sikap adil terhadap mereka menyebabkan cinta dan wala', begitu pula jangan sampai kebencian dan permusuhan kita menyeret kepada perilaku zhalim dan melampaui batas.

5. Para shahabat menyikapi para penyimpang berlandaskan ketajaman pemikiran dan ketelitian pemahaman.

Sebagaimana diriwayatkan bahwa Atho' bin Yassar pernah bertanya kepada Sa'id Al Khudhriy tentang Haruriyah (Khawarij), ia bertanya : "Pernahkah Anda mendengar Rasulullah menyebut-kan tentangnya? "Abu Sa'id menjawab: "Aku tidak tahu persis siapa Haruriyah itu. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Akan muncul di tengah-tengah umat ini suatu kaum yang kalian merasa bahwa shalat kalian sangat sedikit dibanding shalat mereka (padahal mereka sedang keluar dari jama'ah Islam)".

Di sini Abu Sa'id mengucapkan sesuai dengan apa yang disabdakan Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam yaitu dengan mengatakan fi hadzihil ummah (di tengah-tengah umat ini), bukan min hadzihil ummah (dari umat ini). Kalau saja ia mengucapkan itu dengan menggunakan min (dari) maka maknanya akan sangat jauh berbeda.

Di dalam Shahih Muslim juz 7 hal 164 Al-Maziri berkata: "Ini menunjukkan luasnya ilmu para shahabat Radhiallaahu anhum, kejelian pandangan mereka dan ketepatan dalam meredaksikan suatu kalimat. Perbedaan dari makna yang tersembunyi ini ialah jika menggunakan min maka menunjukkkan bagian dari umat ini bukan kafir, lain halnya kalau fi.

6. Menghubungkan suatu bid'ah dan penyimpangan dengan millah/agama sebelumnya.

Ini merupakan bukti keluasan ilmu dan cakrawala berpikir para shahabat, sebagaimana apa yang pernah disampaikan oleh Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu : "Berhati-hatilah kalian terhadap Al Irja' karena ia merupakan bagian dari pemikiran Nashara!"(Al Lalikai 3/631).

Dan sudah tidak asing lagi bahwa suatu bid'ah biasanya punya kaitan dengan kelompok/millah yang lain sebab pemikiran itu tidak pernah mati dan tiap-tiap kaum ada pewarisnya. Adapun yang menjadi titik temu dari dua kelompok ini -wallahu a'lam- adalah bahwa orang-orang Nashara menganggap diri mereka kekasih dan anak Allah, sebagaimana juga orang-orang murji'ah mengaku bahwa mereka adalah orang mukmin yang sempurna imannya meskipun banyak melakukan kefasikan dan maksiat. Oleh karenanya orang murji'ah menganggap biasa saja meninggalkan kewajiban dan menerjang keharaman dengan anggapan bahwa iman mereka tetap masih sempurna dan utuh sebagaimana Nashara yang tidak mengenal najis dan haram serta enggan melakukan kewajiban.

(Disarikan dari Maqalat fi aqidah ahlus sunnah wal jama'ah, karya Dr. Abdul Aziz bin Muhamamd Alu Abdul Lathif.( Dept. Ilmiah ) 

Nabi Sulaiman, Pemimpin Negara Yang Shalih


Diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, dia memberitakan bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, artinya, 
"Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mempunyai sebanyak enam puluh orang isteri. Suatu ketika, dia berkata, "Pada malam ini aku akan menggauli semua isteriku, sehingga semuanya akan hamil dan melahirkan seorang anak lelaki yang hebat dalam menunggang kuda (tentara berkuda) untuk berjihad di jalan Allah. Ternyata mereka (isterinya itu) semua tidak mengandung kecuali seorang saja, itu pun hanya melahirkan anak yang cacat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau Nabi Sulaiman alaihissalam mengecualikan (berkata Insya’Allah) maka setiap isterinya akan melahirkan seorang anak lelaki yang hebat dalam menunggang kuda untuk berjihad di jalan Allah." (Shahih al-Bukhari)

Dalam riwayat lain lagi, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhumemberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, artinya,
"Ada dua orang wanita sedang bersama dengan anak mereka masing-masing, tiba-tiba seekor serigala melarikan anak salah seorang di antara mereka. Seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, "Yang dilarikan serigala itu adalah anakmu?" Yang seorang lagi mengatakan, "Tidak, anakmulah yang telah dibawa itu?" Lalu mereka berdua meminta pengadilan kepada Nabi Daud ‘alaihissalam, maka Nabi Daud ‘alaihissalam memenangkan yang lebih tua. Kemudian keduanya menghadap Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam lalu menceritakan perkara yang telah terjadi, maka Nabi Sulaiman berkata, "Ambilkan pisau, aku akan membelah anak ini untuk kamu berdua.” Wanita yang lebih muda berkata, "Janganlah engkau lakukan itu, semoga Allah merahmatimu, anak ini adalah anaknya.” Maka Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa anak itu milik wanita yang lebih muda." (Shahih al-Bukhari)

Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari dua hadits di atas adalah bahwa hendaknya kita tidak memastikan untuk merencanakan sesuatu tanpa mengatakan insya’Allah. Juga tentang kecerdikan dan keadilan Nabi Sulaiman di dalam memutuskan perkara serta gambaran bagaimana mudahnya rakyat untuk bertemu penguasa ketika ada sebuah keperluan, tanpa melewati birokrasi dan prosedur yang berliku-liku.

Banyak kisah tentang Nabiyullah Sulaiman ’alahissalam yang selama berabad-abad menjadi misteri ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah kemampuannya berbicara dengan hewan. Al-Qur'an memberitahukan bahwa pada suatu ketika, Nabiyullah Sulaiman’alahissalam mendengar percakapan semut. Bagaimana beliau dapat memahami percakapan semut dan bagaimana ia tahu bahwa Nabi Sulaiman ’alahissalam dan pasukannya akan melewati pemukiman semut-semut itu, ilmu pengetahuan modern belum berhasil mengungkapnya. Namun karena yang memberitahu kan adalah al-Qur’an, kita wajib mempercayainya. Tentang hikmah yang terkandung di dalam kisah Nabi Sulaiman ’alahissalam ini, Allah Ta’ala berfirman,
"Semua kisah para Rasul, Kami ceritakan kepadamu; yaitu kisah-kisah yang dengannya, Kami teguhkan hatimu; telah datang kepadamu kebenaran (al-haq) serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS Hud : 120)

Dari firman Allah ini dapat diketahui bahwa salah satu hikmah Allah mengisahkan perjuangan para Nabi dan Rasul Allah, termasuk Nabi Sulaiman ’alahissalam adalah untuk meneguhkan hati. Kisah Nabi Sulaiman ’alahissalam, misalnya, kalau diperhatikan secara mendalam, banyak sekali pelajaran berharga yang diperoleh di dalamnya. Nabi Sulaiman adalah salah seorang putra Nabi Daud’alahissalam, yang menonjol di antara saudara-saudaranya dalam hal kebaikan, kecerdasan serta kealiman. Allah menganugerahinya banyak kelebihan. Dalam usia muda, Sulaiman telah memberi saran terhadap ayahnya menyangkut persoalan masyarakat. Pada usia dewasa, dialah yang ditunjuk menjadi raja menggantikan sang ayah.

Nabi Sulaiman ’alahissalam menjadi raja bukan karena politik uang (money politics), bukan pula dengan mengemis-ngemis agar diberi jabatan. Juga tidak melalui sistim pemilihan yang curang atau setelah berkoalisi dengan pihak yang curang. Salah satu keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepadanya ialah wilayah kekuasaannya mencakup masyarakat jin. Artinya rakyat Nabi Sulaiman’alahissalam bukan hanya manusia, tetapi juga bangsa jin, bahkan hewan, termasuk Hudhud, (sejenis burung). Dan Nabi Sulaiman’alahissalam dalam hal ini dapat berkomunikasi dengan baik dengan bangsa jin dan binatang itu.

Dikisahkan dalam al Qur’an (silakan buka surah an-Naml 15-44), bahwa pada suatu hari Nabi Sulaiman ’alahissalam mengumpulkan pasukannya yang terdiri dari manusia dan jin serta binatang. Hudhud, si burung terlambat datang. Ketika Nabi Sulaiman menegurnya, burung itu beralasan bahwa dirinya baru datang dari negeri Saba, kini berada di sekitar wilayah Yaman. Hudhud memberitahukan bahwa Saba adalah negeri makmur yang diperintah seorang ratu bernama Bilqis (Bulqais). Seperti diketahui, Nabi Sulaiman ’alahissalam, selain Nabi, sekaligus juga penguasa, yang untuk ukuran masa kini dapat dikatakan presiden. Maka begitu Hudhud menginformasikan kepadanya bahwa Ratu Saba' menyembah matahari dan bukan beribadah kepada Allah, Sulaiman ’alahissalam yang penguasa itu langsung tampil mencegahnya. Bahkan dengan nada cukup berani dan tegas, ia memerintahkan sang Ratu masuk Islam, walau pun pada awalnya hanya melalui sepucuk surat da'wah. Isinya adalah seruan untuk takluk dan mengikuti jalan Islam yang ditempuh Sulaiman. Terjemahan isi surat da'wah yang beliau tulis ialah, "Dari Sulaiman.Bismillaahirrahmaanirrahim. Janganlah Anda (hai Ratu Saba') bersikap sombong terhadap Saya, dan datangilah saya dalam keadaan Muslim..."

Melalui surat da'wahnya itu, Nabi Sulaiman ’alahissalammemerintahkan sang Ratu agar bersedia menjadi Muslim atau masuk Islam. Semula Bilqis menolak dengan mengirim utusan yang membawa hadiah untuk Nabi Sulaiman ’alahissalam. Namun Nabi Sulaiman ’alahissalam menolak hadiah itu dan menyuruh sang utusan membawanya kembali. Mungkin merasa penasaran dengan cerita kejayaan kerajaan Sulaiman, Bilqis berencana akan mengunjungi kerajaan Bani Israel itu. Dewan Penasihat Kerajaan ternyata tak melarang rencana sang Ratu.

Mengetahui rencana kunjungan itu, Nabi Sulaiman ’alahissalambermaksud membuat kejutan. Ia membuka sayembara di kalangan rakyatnya untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke istananya. Jin yang disebut bernama Ifrit menawarkan diri melakukan tugas itu. Namun Jin itu dikalahkan manusia. Seorang alim mampu memindahkan singgasana tersebut dalam sekejap mata, fantastis kedengarannya. Maka, ketika Bilqis tiba di Istana Sulaiman’alahissalam, ia terkejut, heran dan terkagum-kagum melihat istana Nabi Sulaiman ’alahissalam. Kemegahan istana tersebut tercermin pada kilau lantainya yang membuat Bilqis terperangah. Ia mengangkat kain panjangnya, menyangka kilauan itu adalah air. Al-Qur’an sengaja tidak mengungkapkan secara detail tentang peristiwa itu dan kronologis da’wah yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman’alahissalam terhadap Ratu Saba’. Al-Qur’an hanya mengisahkan bahwa da'wah Nabi Sulaiman ’alahissalam terhadap sang Kepala Pemerintahan yang bernama Bilqis atau Bulqais itu rupanya berhasil akurat. Sang Ratu akhirnya masuk Islam di hadapan sang raja. Andaikata Nabi Sulaiman ’alahissalam bukan seorang Nabi dan Penguasa, belum tentu sang Ratu sudi dida'wahi dan masuk Islam.

Kalau saja Nabi Sulaiman ’alahissalam orang biasa, bukan Nabi dan bukan pula seorang Raja, ada kemungkinan, ia tak berani mengirimkan surat setegas dan seberani itu kepada seorang penguasa seperti Ratu Saba’. Banyak sekali Da'i yang bukan penguasa tak dapat berbuat apa-apa ketika di depan matanya, ia menyaksikan suatu kemungkaran, yang sangat perlu diubah. Bukan tak mau tampil mencegahnya, tetapi kekuatan dan kekuasaan untuk itu tidak ada pada dirinya. Yang dapat dilakukannya ketika menyaksikan kemungkaran di depan matanya itu paling hanya membencinya dan berdoa di dalam hati agar Allah memperbaiki kemungkaran itu.

Ini artinya, presiden atau penguasa yang mempunyai jiwa da’wah alias shalih sangatlah perlu. Atau Muslim yang hatinya benar-benar merasa bertanggungjawab menda'wahi rakyat, jika mampu maka perlu untuk menjadi pemimpin. Sekali lagi, yang penting ialah hatinya merasa bertanggung jawab terhadap kelancaran da'wah, dan bukan predikat serta gelar yang disandang di depan namanya.

Alangkah beruntungnya umat Islam Indonesia, kalau mempunyai pemimpin, yang bukan hanya sekedar merupakan Kepala Pemerintahan, tetapi sekaligus mau tampil sebagai da'i dalam arti yang sebenarnya, dan bukan da'i yang hanya sekedar naik turun podium berceramah, dan bukan pula manusia yang di depan namanya tercantum predikat atau gelar tertentu, tetapi hatinya sama sekali tak mau menegakkan kebenaran Islam. Sebab sudah maklum bahwa anjuran orang yang berpredikat presiden atau seorang penguasa akan didengarkan orang. Berbeda dengan da'i pada umumnya yang bukan seorang pemimpin pemerintahan. Kalangan elit bukan saja enggan mendengarkan, bahkan mungkin 'alergi'. Sebab, salah satu kecenderungan orang ialah lebih tertarik kepada penampilan lahir daripada kualitas ruh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa jihad yang paling utama ialah mengemukakan yang haq di hadapan penguasa zalim. Yang namanya da'i atau siapa yang faham Islam, tentu tahu hadits ini. Namun ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim, sedikit sekali da'i yang dapat melakukan nahi munkar terhadapnya. Dan kalau sang penguasa yang zalim itu memberinya hadiah, maka jarang da'i yang berani menolaknya. Apa lagi kalau secara ekonomi, sang da'i miskin, sedang 'aqidahnya tidak terlalu tegar.

Tetapi keadaan mungkin tidak akan demikian, kalau sang da'i adalah seorang penguasa atau pemimpin. Ketika Nabi Sulaiman’alahissalam sebagai penguasa memberikan ultimatum kepada ratu Saba', agar menemuinya untuk masuk Islam, dengan catatan, kalau tidak, Nabi Sulaiman ’alahissalam akan memerangi negerinya, maka sang Ratu mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman ’alahissalam, dengan tujuan untuk menguji siapa Sulaiman sebenarnya, benarkah Nabi atau bukan. Karena pada umumnya seorang raja akan senang jika ada negeri lain yang memberinya hadiah atau upeti. Tetapi Nabi Sulaiman ’alahissalam tak mau melakukan perbuatan hina seperti itu. Sebab ia seorang penguasa, mempunyai harta banyak, dan seorang hamba Allah yang beriman teguh dan berjiwa besar. Maka seorang penguasa yang berjiwa da’wah sangat dibutuhkan untuk kepentingan ummat dan da'wah islamiyah. Lain halnya kalau motivasi menjadi penguasa itu hanya semata-mata ingin menjadikan jabatan itu sebagai komoditi nonmigas untuk memperkaya diri sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.

Merakit Persaudaraan dan Solidaritas


Urgensi Persaudaraan Dan Solidaritas 

Pepatah mengatakan bahwa "bersatu kita teguh bercerai kita runtuh". Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan seluruh aset dan potensi Umat Islam melainkan dengan menerjemahkan arti persaudaraan dan solidaritas secara benar, lalu diwujudkan dalam interaksi sosial dan prilaku kehidupan, Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam telah memberi gambaran kepada kita secara jelas tentang potret persaudaraan . Beliau bersabda:

"Orang mukmin bagi orang mukmin lainnya seperti bangunan, satu sama lain saling menguatkan". Dan Rasulullah SAW menjalike jari-jarinya. (Muttafaq alaih).

Dan beliau Salallahu alaihi wasallam juga bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling cinta, saling belas kasihnya dan saling perhatiannya laksanan badan jika salah satu anggota ada yang sakit, maka yang lainnya merasa mengeluh dan panas".(Muttafaqun alaih).

Landasan dan dasar persaudaraan dan solidaritas

Menurut Islam, bangunan persaudaraan dan solidaritas hanya bisa ditegakkan di atas aqidah dan manhaj yang sahih, karena persaudaraan tanpa adanya landasan -yang jelas dan kokoh yang mampu menyatukan berbagai kepentingan, ambisi dan keinginan- merupakan suatu hal yang mustahil. Maka memperjelas landasan dan manhaj persaudaraan itu lebih penting daripada persaudaraan itu sendiri, kecuali yang dikehendaki dari persaudaraan tersebut hanya berbaris dan bersatu secara jasad yang hampa dari nilai ketaqwaan, keimanan dan moralitas agama. Oleh sebab itu para rasul khususnya nabi Muhammad diperintahkan terlebih dahulu untuk menegakkan agama dan jangan berpecah-belah dalam menerima kebenarannya sebagaimana dalam firmanNya, yang artinya: "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya". (Asy-Syura: 13).

Jadi persaudaraan yang kita inginkan adalah persaudaraan yang mampu menjamin kesamaan ideologi, pemikiran, misi, visi, prinsip dan pandangan hidup tanpa harus menghilangkan kemerdekaan beraspirasi, berkreasi dan berkomunikasi, asalkan masih dalam koridor yang dibolehkan Aqidah Islam.

Dengan melandaskan persaudaraan dan solidaritas di atas aqidah, kita bisa dengan mudah menghancurkan dan meluluhkan segala bentuk kebatilan . Apabila bentuk persaudaraan tidak seperti di atas, maka Umat Islam hanya menjadi bulan-bulanan umat lain dan menjadi obyek dari berbagai kepentingan belaka. Dalam hal ini Rasulallah Salallahu alaihi wasallam telah memberi peringatan cukup jelas tentang kondisi Umat Islam, bila dalam hidupnya keluar dari Aqidah Islam dan lebih memilih keduniaan (artinya): "Hampir-hampir umat lain bersekongkol mengeroyok kalian seperti orang-orang makan mengeroyok makanan dari nampan. Seorang bertanya: Apakah kita di saat itu sedikit Wahai Rasulallah? Beliau menjawab: Bahkan kalian banyak tetapi kalian seperti buih banjir. Dan Allah mengambil dari hati-hati musuhmu rasa takut terhadap kalian, lalu Allah memasukkan di hatimu (penyakit) wahan. Kami (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulallah apa itu wahan?. Beliau menjawab: Cinta dunia dan benci mati. (HR Ahmad dan Abu Daud)

Penyebab Perpecahan dan Pertikaian Umat Islam

Perpecahan bukanlah semata-mata takdir dan ketentuan sunatullah akan tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor manusiawi.

Adapun foktor-faktor yang dominan menjadi pemicu perpecahan di kalangan Umat Islam antara lain:
  • Bercampurnya ajaran kesyirikan dan kebid'ahan dengan ajaran Islam sehingga sebagian Umat Islam sudah tidak mampu membedakan antara ajaran yang murni dengan ajaran yang batil.
  • Bodohnya sebagian Umat Islam terhadap ajaran Islam yang murni dan sangat lemah untuk mempelajari ajaran islam secara benar.
  • Fanatis dan taklid buta terhadap kelompok, tokoh atau figur.
  • Lebih senang mengedepankan keinginan hawa nafsu dengan mengorbankan nilai-nilai keimanan.
  • Mendahulukan akal dan logika belaka daripada nash-nash Al-Qur'an dan hadits.
Kiat-kiat untuk merealisasikan persaudaraan dan solidaritas
  • Pemurnian tauhid dan luruskan aqidah serta bersihkan kesyirikan, bid'ah, takhayul dan khurafat, karena tidak mungkin kita menyatukan umat dalam satu barisan sementara masih ada perbedaan yang fondamental dalam masalah aqidah
    Firman Allah SWT, artinya: Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar-Rum: 31-32).
  • Persaudaraan dan solidaritas yang selalu mengedepankan ilmu dan cinta ulama, sebab ilmu adalah kunci perekat nilai persaudaraan, semakin tinggi kesadaran ilmu agama seseorang semaikin tinggi ilmu ruhiyah persaudaraan yang ia perjuangkan.
    Sabda Rasulallah:
    Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan pada dirinya, maka ia difahamkan dalam urusan agama . (Mutafaq 'Alaih)
  • Mampu menundukkan nafsu dan keinginannya di bawah apa yang dibawa oleh Rasulallah.
    Sabda Rasulallah:
    Tidaklah beriman diantara kalian sehingga ia memperturutkan hawa-nafsunya dengan apa yang aku bawa dan tidak melenceng darinya.
  • Menanggalkan segala bentuk fanatis terhadap figur, kelompok dan golongan tertentu dan hanya fanatis terhadap Aqidah Islam.
    "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
  • Memerangi segala bentuk taklid yang membabi-buta yang mengalahkan obyektifitas dalam memerima dali-dalil kebenaran.
Dan janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra': 36). 

Hak dan kewajiban dalam hidup bersaudara
  • Saling mengasihi dan menyayangi antara sesama saudara mukmin berdasarkan sabda Rasulallah salallahu alaihi wasallam
    "Tidaklah beriman diantara kalian sehingga saudaranya lebih dicintai dari pada dirinya sendiri."
  • Saling memberi pertolongan dan bantuan dalam segala keperluan dan kebutuhan
    Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya di hari Kiamat, dan barangsiapa yang memudahkan orang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim).
  • Saling mengujungi dan menziarahi, karena hal tersebut akan menumbuhkan persaudaraan dan mendatangkan rahmat dari Allah serta akan diluarkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.
    Barang siapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilaturrahmi.
  • Saling menjaga nama baik, kehormatan dan harga diri berdasarkan sabda Rasulallah Salallahu alaliwasalllam:
    "Ketahuilah sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian menjadi haram terhadap kalian seperti haramnya bulan kalian ini dan negeri kalian ini. (HR. Ahmad).
  • Saling mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah, sebagaimana firman Allah, artinya: "Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Kitab rujukan :
  • Al-Ukhuwwah, syuruthuha wa dhawabituha, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah. 
  • Al-Wala' wal Bara' fil Islam, Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. 
  • Al-Wala' wal Bara', Syaikah Abdullah Al-Jibrin. 
  • Ath-Thaifah Al-Manshurah, Muhammad bin Ibrahim Syaghrah. 
  • Manhaj Ath-Thaifah Al-Manshurah, Muhammad bin Jamil Zainu.

BERHENTILAH WAHAI SAUDARAKU



Saudaraku tercinta! Sesungguhnya alam semesta ini, yang besar maupun yang kecil, semuanya menghadap kepada Allahsubhanahu wata'ala, bertasbih kepada-Nya, mengagungkan dan bersujud kepada-Nya. Allah subhanahu wata'ala berfirman yang artinya, "Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya". (QS. Al-Isra: 44).

Sesungguhnya seluruh makhluk yang Allah ciptakan menundukkan kepalanya, merendahkan diri kepada-Nya dan mengakui keutamaan-Nya. Akan tetapi, tinggal di alam semesta ini makhluk kecil yang rendah dan hina. Diciptakan dari setetes air hina (mani) tiba-tiba saja ia menjadi penentang yang nyata. Dia berada di suatu lembah dan seluruh alam semesta di lembah yang lain. Ia meninggalkan ketaatan, tidak mau tunduk dan bertasbih kepada-Nya, meskipun segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tekun berdzikir dan bertasbih kepada Allahsubhanahu wata'ala. Makhluk kecil ini ialah manusia yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala. Alangkah dahsyatnya kebatilan ini! Alangkah besarnya kedunguan ini! Dan Alangkah rendah dan hinanya ketika ia menjadi penyakit di alam yang teratur ini.

Berapa banyak ditawarkan kepada nya pertaubatan namun ia enggan untuk bertaubat. Berapa kali ditawarkan kepadanya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata'ala, namun dia enggan untuk kembali, malah sebaliknya ia berlari dari-Nya. Berapa banyak ditawarkan kepadanya perdamaian bersama kekasihnya namun ia enggan berdamai dan mengangkat kepalanya menyombongkan diri.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allahsubhanahu wata'ala berpikirlah sejenak tentang dunia ini dan kehinaannya. Berpikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyiksa mereka dengan siksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling pahit. Membuat mereka sedikit tertawa dan banyak berlinang air mata.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'alabepikirlah tentang kehidupan akhirat dan kekekalannya. Ia adalah kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah tempat kembali. Ia adalah penghujung perjalanan.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'alapikirkanlah sejenak tentang api neraka, bahan bakarnya, gemuruhnya, kedalaman jurangnya dan kedahsyatan panas apinya. Bayangkanlah betapa pedihnya siksa yang dirasakan penghuninya. Mereka di dalam air yang sangat panas dalam keadaan wajah yang tersungkur. Di dalam neraka mereka seperti kayu bakar yang menyala-nyala.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala,wajib bagimu untuk berpikir tentang surga dan apa yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada orang-orang yang mentaati-Nya. Di dalam surga terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, telinga belum pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas dalam hati dan benak manusia, berupa puncak kenikmatan dengan kelezatan yang paling tinggi berupa berbagai macam makanan, minuman, pakaian, peman dangan, dan kesenangan-kesenangan yang tidak akan disia-siakan kecuali oleh orang-orang yang diharamkan untuk memasukinya.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allahsubhanahu wata'ala, ingatlah berapa lama engkau akan hidup di dunia ini? Enam puluh tahun, delapan puluh tahun. Seratus tahun, seribu tahun? Kemudian apa setelah itu? Kemudian kematian pasti akan datang. Apakah yang akan engkau tempati? Surga-surga yang penuh dengan kenikmatan ataukah neraka jahim?

Saudaraku tercinta! Yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya, bahwasanya Malaikat Maut yang telah mengunjungi orang lain, sesungguhnya ia sedang menuju ke arahmu. Hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, bahkan hitungan menit dan detik ia akan meghampirimu. Lalu engkau hidup seorang diri di alam kubur. Tiada lagi harta, keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Camkanlah dan renungkanlan gelapnya kubur dan kesendirianmu di dalamnya, sempitnya ruangannya, sengatan binatang-bintang berbisa, ketakutan yang mencekam dan kedahsyatan pukulan Malaikat Adzab.

Saudaraku tercinta! Ingatlah hari Kiamat. Hari di mana kehormatan di tangan Allah subhanahu wata'ala. Ketika rasa takut mengisi hati. Ketika engkau berlepas diri dari anakmu, ibumu, ayahmu, istrimu, dan juga saudaramu. Ingatlah kondisi dan keadaan-keadaan saat itu. Ingatlah hari di mana neraca diletakkan dan lembaran-lembaran amal manusia beterbangan. Berapa banyak amal kebaikan di dalam bukumu? Berapa banyak celah-celah kosong dalam amal-amalmu? Ingatlah tatkala engkau berdiri di hadapan Al-Malikul Haqqul Mubin Dzat Yang engkau berlari dari-Nya. Dzat Yang memanggilmu namun engkau berpaling dari-Nya. Engkau berdiri di hadapan-Nya dan di tanganmu lembaran catatan amal yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.

Maka lisan manakah yang engkau gunakan untuk menjawab pertanyaan Allah subhanahu wata'ala,ketika Ia bertanya kepadamu tentang umurmu, masa mudamu, perbuatanmu, dan juga hartamu. Maka kaki manakah yang engkau gunakan untuk berdiri di hadapan Allah subhanahu wata'ala? Dengan mata yang mana engkau memandang-Nya? Dan dengan lisan manakah engkau menjawab-Nya ketika Ia berkata kepadamu, "Hamba-Ku, engkau menganggap remeh pengawasan-Ku padamu, Engkau anggap sebagai orang yang paling hina dari orang-orang yang memperhatikanmu. Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu? Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Lalu mengapa engkau mendurhakai-Ku padahal aku telah memberi nikmat kepadamu." 

Saudaraku tercinta! Tidakkah engkau bersabar menjalankan ketaatan kepada subhanahu wata'ala di hari-hari yang pendek ini? Detik-detik ini begitu cepat, setelah itu engkau akan meraih kemenangan yang sangat besar yang engkau akan bersenang-senang di dalam kenikmatan yang abadi.

Saudaraku tercinta! Di sana terdapat segolongan manusia yang berkeyakinan bahwasanya mereka diciptakan sia-sia belaka dan dibiarkan begitu saja. Kehidupan mereka hanya diisi dengan senda gurau dan permainan belaka. Penglihatan mereka tertutup, telinga mereka tuli untuk mendengar petunjuk, hati mereka terbalik, mata mereka buta dan nurani mereka tak berfungsi sama sekali. Engkau akan mendapati di majlis-majlis mereka segala sesuatu kecuali Al-Qur'an dan untaian dzikir kepada Allahsubhanahu wata'ala.

Mereka meninggalkan Allah subhanahu wata'ala, padahal mereka adalah hamba-hamba-Nya yang berada di hadapan dan genggaman-Nya. Allah subhanahu wata'ala memanggil mereka namun mereka tidak memenuhi panggilan-Nya, mereka lebih mendahulukan panggilan syetan, keinginan, dan hawa nafsu mereka. Luar biasa keadaan mereka! Bagaimana mereka memenuhi ajakan syetan dan meninggalkan seruan Allahsubhanahu wata'ala. Ke manakah perginya akal mereka?!

Allah subhanahu wata'ala telah berfirman, artinya, "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj:46).

Apa yang dilakukan Allah subhanahu wata'ala terhadap mereka sehingga mereka mendurhakai dan tidak menaati-Nya?! Bukankah Allah subhanahu wata'ala telah menciptakan mereka? Bukankah Dia telah memberi rizki kepada mereka? Bukankah Dia telah mencukupi harta mereka dan menyehatkan tubuh mereka? Apakah Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Lembut dan Maha Mulia telah menipu mereka?

Apakah mereka tidak takut jikalau kematian mendatangi mereka di saat sedang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala? Sebagaimana firman-Nya, artinya, "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang merugi." (QS. Al-A'raf: 99).

Hindarilah dirimu untuk menjadi bagian dari mereka dan jauhkanlah dirimu dari mereka. Beramallah untuk sesuatu yang karenanya engkau diciptakan (beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala). Sesungguhnya -demi Allah- engkau diciptakan untuk sebuah masalah yang sangat agung. Allah subhanahu wata'alaberfirman yang artinya, "Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku". (QS.Adz-Dzariyat:56).

Saudaraku tercinta! Wahai engkau yang sedang bermaksiat kepada Allah!! Kembalilah kepada Tuhanmu dan takutlah akan api neraka. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang berbagai kesulitan. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang dua pilihan, kehidupan penuh nikmat atau lingkungan hidup penuh siksa. Sesungguhnya di hadapanmu terhampar kalajengking-kalajengking, ular-ular dan masalah-masalah sukar dan pelik. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, tawa tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Nyanyian-nyanyian, film-film, dan perkara-perkara hina tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Aneka surat kabar dan majalah-majalah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Isteri, anak-anak, teman dan sahabat tidak dapat memberi manfaaat kepadamu. Harta yang melimpah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Tidak ada yang bisa memberi manfaat kepadamu kecuali kebaikan-kebaikan dan amal-amal shalih yang engkau kerjakan selama hidupmu di dunia.

Saudaraku tercinta! Demi Allah tidaklah aku menulis perkataan ini melainkan karena kekhawatiranku kepadamu. Aku khawatir wajah putihmu ini berubah menjadi hitam pada hari Kiamat. Aku khawatir wajah bercahayamu ini akan berubah menjadi gelap. Aku khawatir tubuh yang sehat ini akan dilalap oleh api neraka. Maka bersegeralah -semoga Allah subhanahu wata'ala memberi taufik kepadamu- untuk membebaskan dirimu dari api neraka. Umumkanlah ia sebagai bentuk taubat yang sebenarnya dari sekarang. Yakinlah bahwasanya selamanya engkau tidak akan menyesal melakukan itu. Bahkan sebalikya -dengan izin Allahsubhanahu wata'ala- engkau akan merasakan kebahagiaan. Hindarilah keraguan atau mengakhirkan semua itu. Sesungguhnya aku -demi Allah- menjadi penasihat bagimu.

Waspada Bahaya Media Hiburan


Menyikapi anak-anak yang sibuk menonton televisi, di antara kita sama dan serempak. Kebiasaan menonton televisi (anak-anak dan remaja) adalah sangat berbahaya menurut Islam, pakar psikologi, sosiologi dan kedokteran. 

Pemanfa’atan layar kaca (TV, Vidio, TV Game dll) berdasarkan penelitian, ilmiah terbukti menimbulkan dampak negatif. Di antaranya padangan mata tak normal karena pengaruh sinar ultra violet dari kaca, tubuh menjadi malas, syaraf terganggu, kisah khayal dan pertunjukkan berefek negatif, dan lebih besar dari semua itu adalah pertunjuk-kannya melanggar syari’at dan merusak moral.

Sebelum kita paparkan berbagai sisi negatif yang ditimbulkan kebiasaan tersebut, perlu ditegaskan kembali di sini bahwa semua itu bukanlah berasal dari televisi sebagai bendanya, akan tetapi yang timbul dari tayangan yang ditampilkannya. Bergantung kepada tayangannya, dan bergantung dengan mayoritas yang terlihat didalamnya itulah standar hukum ditetapkan. Karena yang haram itu sudah jelas dan yang halal itu sudah jelas, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Secara jujur kita katakan, bahwa memang ada bebarapa hal positif yang bisa disebutkan sehubungan dengan televisi. Namun dari hari kehari semakin banyak indikasi ilmiah yang menegaskan adanya dampak negatif dari acara televisi melalui berbagai tayangannya, terutama bagi anak-anak kecil.

Sampai suatu saat muncul program gambar bergerak yang dikenal dengan film kartun, yang memang diciptakan dan dikemas mengikuti berbagai budaya masyarakat yang tidak islami. Oleh sebab itu, film-film tersebut mengandung berbagai hal-hal haram yang merusak akidah dan fitrah anak-anak, menumbuhkan sikap bandel serta membangkitkan kandungan jiwa yang berkaitan dengan hal-hal yang tabu bagi anak-anak seusia mereka.

Kenyataan lain menyebutkan bahwa berbagai riset ilmiah membuk-tikan adanya hubungan yang erat antara waktu yang dihabiskan seorang anak di hadapan monitor televisi beserta bentuk acara yang dinikmatinya dengan keterlambatannya masuk sekolah. Ditambah dengan dampak lain berupa timbulnya sifat nakal dan kecenderungan berbuat jahat, akibat film sadis yang ditontonnya.

Sehubungan dengan kenyataan itu, Nicolas Van Rogh, ketua Badan Nasio-nal Pendidikan Anak dan Pakar Televisi di Amerika serikat menyatakan: "Kadang-kadang televisi bisa menjadi musuh bagi anak-anak, meski kadang bisa menjadi hadiah yang menyenang-kan. Karena menonton berbagai program acara yang tidak karuan, dapat menghabiskan porsi terbanyak waktu anak-anak, menghilangkan banyak waktu bermanfaat yang dapat digunakan untuk belajar, bermain dan tidur."

Dampak negatif dari menggeluti layar televisi itu ternyata tidak dapat hilang begitu saja ketika seorang anak sudah beranjak dari masa kanak-kanaknya. Bahkan akan terus mengi-kutinya pada masa-masa selanjutnya. Seorang pakar psikologi, Leonard Iran dari lembaga riset di bawah Perguruan Tinggi Michigin Amerika Serikat telah melakukan penyelidikan terhadap beberapa orang anak di New York sejak tahun 1960 M. hingga 1996, yakni selama 36 tahun dari umur mereka. Ia melakukan penyelidikan terhadap tingkah laku mereka. Ia mendapatkan kenyataan bahwa prilaku mereka yang senang menyaksikan film-film sadis di antara mereka memiliki kecendrungan nakal lebih besar pada masa puber dan masa remaja, lebih banyak memukul isteri dan lebih banyak menenggak minuman keras, serta lebih mudah melakukan tindak-tindak kriminal.

Memang negara-negara Islam, cukup jauh dari kondisi reaktif yang mencemaskan sebagaimana di negara-negara barat. Terutama kota Mekah dan Al-Madinah yang memiliki keistimewaan sebagai negeri sumber Islam dan tambatan hati kaum muslimin. Hanya saja, dengan adanya berba-gai saluran televisi yang tidak mengenal batas, berbagai problematika dan kesulitan membawa ancaman yang lebih serius. Karena seorang anak, berada dalam masa mencari hiburan dan pengisi kekosongan melalui kebiasaannya menikmati saluran-saluran televisi yang terhidang di hadapannya. Pandangan matanya, tidak bisa tidak, akan tertumpu pada hal-hal yang akan menentukan masa depannya. Itulah yang menjadi kesimpulan dari penyelidikan ilmiah yang dilaku-kan oleh Yayasan Anak-anak sekarang ini di Amerika: "Anak-anak adalah Media Hiburan".

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahka ketika anak-anak itu berpindah-pindah dari satu saluran ke saluran TV lainnya yang berisi program-program, ia mulai menjadi korban dari doktrin berbahaya, yang melaui doktrin tersebut mereka mengenal cara menipu, menghilangkan penghormatan terhadap orang tua, dan melihat aurat yang diharamkan.
James Steir, ketua Yayasan tersebut di atas memberikan tambahan sebagai berikut:
"Kenyataan itu menjadi tolok ukur untuk persoalan yang lebih makro. Anak-anak kecil menikmati media-media komunikasi itu dengan cara yang belum pernah mereka kenal sebelum-nya. Mereka akan menghadapi berbagai akibat mengerikan lainnya, melalui kebiasaan` mereka menonton adegan-adegan sadistik dan seksual. Sehingga mereka membutuhkan pendidikan lebih mendalam dan penanaman akhlak yang lebih matang lagi."

Lebih dari itu, berbagai tayangan televisi tersebut banyak menarik minat manusia pada umumnya melalui berbagai penampilan yang lepas dari kontrol etika dan moral, seolah-olah menjadi umpan untuk menarik hati mereka. Dengan sendirinya, semua itu akan membawa pengaruh pada pribadi dan masyarakat.

Di antara kewajiban yang harus kita pikul menghadapi berbagai kenyataan itu adalah: menuntut kepada pihak lembaga yang berwenang dan produser berbagai acara tersebut untuk memperbanyak produksi acara-acara yang edukatif dan ilmiah, serta ber-bagai program yang menekankan sisi moral pada diri generasi muda, dengan menjauhi berbagai pelanggaran-pelanggaran syariat.

Satu hal yang cukup vital dalam hal ini adalah menjauhkan anak-anak dari berbagai program yang ngawur dan tidak memperhatikan sisi akhlak dan budi pekerti luhur. Sebaliknya, menyiapkan untuk mereka berbagai program pengganti yang bermanfaat, baik itu melalui layar televisi atau melalui berbagai program pengajaran dan pendi-dikan melalui komputer dan sejenisnya.

Di antara arahan-arahan menarik dari beberapa lembaga masyarakat di Amerika adalah yang diungkapkan orang seorang warga wanita Amerika melalui riset dan pengalaman yang ditulis dalam bukunya yang berjudul: "Apa yang Anda Lakukan Setelah Mematikan Televisi?" Ia menjelaskan bagaimana ia mendidik anak-anaknya dengan tidak menghadirkan media televisi di rumahnya selama sepuluh tahun. Dengan bahasanya ia mengungkapkan, "Anak-anak saya dapat menik-mati berbagai aktivitas dan kegiatan mereka. Mereka juga memiliki ber-bagai pemikiran yang selalu ingin mereka terapkan. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang berbahaya buat diri mereka sendiri.

Kehidupan kami banyak mengalami perubahan. Kami bisa duduk-duduk dalam satu kamar, merasa nyaman dan tentram. Saya berharap masyarakat juga dapat melakukan hal yang mulanya sulit. Betapa besar kebahagiaan yang mere-ka rasakan, kalau mereka bertang-gung-jawab terhadap hidup mereka, dengan memberi hak pensiun kepada media televisi mereka."

Bagaimanapun juga, tak seorang pun yang mengingkari adanya berbagai dampak negatif dan bahaya, pasti dari aneka macam tayangan siaran televisi pada umumnya. Meskipun berbagai pakar pendidikan dan pengajaran di beberapa negara barat sekarang banyak yang meneriakkan pentingnya memberikan penekanan pada disiplin moral dalam berbagai program siaran. Hal ini semakin menegaskan keharusan kaum muslimin untuk berpegang pada media komunikasi yang terpelihara, televisi atau media komunikasi lainnya. Di mana mereka memper-hatikan sisi ajaran syariat dengan sempurna. Inilah satu jalan hidup yang harus menjadi rujukan bagi umat manapun di dunia, kalau mereka menginginkan keselamatan bagi masyarakat.

Hal ini juga semakin menguatkan arahan untuk menciptakan program komunikasi yang bermutu yang dapat memberikan contoh terbaik bagi masyarakat Islam, untuk menjadi keluarga ideal bagi generasi selanjutnya. Karena bisa saja datang satu masa, di mana seorang anak kecil, remaja, atau pemuda berkhayal untuk menjadi seorang tokoh atau olah-ragawan, sementara ia sendiri me-nganggur tanpa kerja dan tanpa keahlian untuk dapat merealisasikan bakti-nya kepada negara. Ada baiknya juga ditampilkan para ulama, para pakar kedokteran, para guru, para insinyur dan berbagai pakar keilmuan lainnya yang menentukan keberhasilan kemajuan dalam negeri, untuk menjadi contoh bagi generasi selanjutnya.

Hal itu juga dapat menjadi daya tarik bagi generasi yang sedang tumbuh berkembang untuk mengikuti jejak mereka dan menjadi orang-orang yang berkarya besar di tengah masyarakat. Maka akan datang pula satu hari, di mana seorang anak pada hari pertama pergi ke sekolah, tanpa sungkan ia menyatakan, bahwa cita-citanya adalah: mendapatkan semua ilmu yang ber-manfaat bagi masyarakat dan umatku. Wahai para pemimpin! Itulah metode pendidikan yang benar. Setiap umat memiliki rahasia pendidikan yang besar yang menentukan langkah mereka. Semoga kita diberi taufik, untuk dapat mengambil kebaikan dari ajaran Nabi kita, Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam . 

Kamis, 26 Januari 2012

Dahsyatnya Sedekah


Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."

"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.


Indahnya Hidup Bersahaja





Bismillahirrohmaanirrohiim,

Saudara-saudaraku Sekalian,
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, "Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya".

Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan
menjadi begitu.

Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’
, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.

Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.

Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji "Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku". Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.

Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,"Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.

Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar  kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya'. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.

Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.

Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.

Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.

Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.

Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.

Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

Alhamdulilahirobil’alamin