Rabu, 15 Februari 2012

Cinta Rasul


Dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (Muttafaq Alaih) 

Saat ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam .Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam adalah perintah agama. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu kita ekspresikan secara serampangan tanpa mengindahkan syari'at agama maka bukannya pahala yang kita terima, tetapi malahan menuai dosa.

Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, mari kita membahas poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam , kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, bagaimana agar mencintai Rasul shallallahu alaihi wasalam ?

1. Kewajiban Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam 

Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam :"Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'. Maka Umar berkata kepada beliau, 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar." 

Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:

"Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, 'Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya......" 

2. Kenapa Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?

Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta'ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.

Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.

Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .

3. Tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam

Cinta Nabi shallallahu alaihi wasalam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Buah Keimanan


Bila cahaya iman telah meresap dalam sanubari niscaya akan menda-tangkan keunikan-keunikan dalam aqidah, amal dan akhlak. Maka barang siapa yang dikaruniai iman, sungguh ia telah dikaruniai kebaikan yang sangat banyak dan tiada ternilai. Iman akan memberikan pengaruh, buah dan akibat-akibat yang terpuji baik di dunia maupun di akhirat, diantara buah dari keimanan tersebut adalah: 

Kecintaan Allah kepada ahlul iman

Firman Allah:“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan me-rekapun mencintaiNya.” (Al-Maidah: 54)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa iman tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang ia cintai dan dipilih dari kalangan manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak dicintai, dan Dia tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai. ”(HR al Hakim dari Ibnu Mas’ud).

Keridhaan Allah kepada ahlul iman

Allah Berfirman Tentang Orang –Orang Mukmin :“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya.Yang demiki-an itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-Bayyinah: 8)

Sesuatu yang paling mulia dan agung didunia adalah keridhaan Allah kepada seorang hamba. Apabila Allah telah meridhai seorang hamba maka Dia akan menjadikanya hidup bahagia, meridhainya dan meneguhkan hatinya diatas jalan yang lurus. Allah juga akan memudahkan kepadanya kebaikan dimanapun berada, kapanpun dan kemanapun ia menuju. Allah meridhai-nya ketika di dunia dan setelah ia meninggalkan dunia.

Ahlul iman memiliki rasa aman yang sempurna

Allah Ta'ala berfirman:“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An'am: 82)

Allah memberitahukan kepada kita bahwa barang siapa yang diberi taufik untuk ikhlas dan tidak syirik maka berarti ia telah mendapatkan dua faedah yaitu rasa aman yang sempurna dan hidayah di dunia dan akhirat. Ada sebagian penafsiran yang menjelaskan bahwa yang dimaksud rasa aman adalah ketika di dunia, ada pula yang menaf-sirkan dengan rasa aman di akhirat. Namun yang jelas bila tauhid seorang hamba telah sempurna maka dia tidak akan takut dengan suatu apapun kecuali hanya kepada Allah.

Diantara buah iman adalah keteguhan hati

Firman Allah dalam surat: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

Di antara musibah yang sangat besar adalah berbolak baliknya hati dari ketaatan kepada Allah. Akan tetapi ahlul iman adalah orang-orang yang diberi keteguhan dan keyakinan yang mantap sehingga fitnah apapun tidak akan berdampak negatif kepada mereka, ujian seberat apapun tidak akan menggoyahkan mereka, sebab mereka berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh.

Hidayah dan rahmat bagi orang yang beriman

Allah ber firman: “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi pe-tunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun: 11)

Petunjuk dan hidayah Allah adalah sempurna, dalam segala kondisi dan urusan, hidayah yang tak teriringi oleh kesesatan.

Nikmatnya ketaatan dan manis-nya bermunajat

Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Telah merasakan nikmat iman orang yang rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul.” (HR Muslim).

Rasulullah memberitahukan bahwa iman memiliki rasa nikmat, maka buah dari keridhaan adalah mencicipi nikmatnya iman. Ibnul qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin berkata: “Hadits ini adalah landasan bagi kedudukan-kedudukan dalam agama, ia mengandung sikap ridha terhadap rubbubiyah dan uluhiyyah Allah Ta'ala, ridha kepada rasul dan tunduk kepadanya, ridha dan berserah diri kepada agamaNya. Barang siapa yang terkumpul dalam dirinya empat perkara diatas maka ia adalah as-shiddiq (benar imannya), kami memohon semoga Allah Yang Maha Agung berkenan menjadikan kita orang-orang yang merasakan nikmatnya bermunajat, manisnya iman dan ketaatan.

Ambisi Akhirat


Dunia dengan berbagai keindahan dan kelezatannya memang sangat menggiurkan dan menjanjikan, maka tak ayal orang yang lemah pondasi imannya akan terseret bahkan menjadi budaknya, semuanya demi dunia. Agar dapat lolos dari jerat ini, maka seorang Muslim hendaklah membekali dirinya dengan keimanan dan ketakwaan serta memompa dirinya agar memiliki ambisi akhirat yang sangat tinggi. 

Karena, siapa saja yang ambisinya akhirat, maka ia akan selalu mengingatnya dalam setiap kondisi di dunia. Anda akan mendapatinya tidak bergembira, tidak bersedih, tidak ridha, tidak marah dan tidak berusaha, kecuali untuk akhirat. Ia akan selalu mengingat akhirat dalam mencari rizki, berjual beli, bekerja,memberi, dan dalam semua urusannya. Siapa saja yang demikian kondisinya, maka Allah subhanahu wata’ala akan menganugerahinya tiga kenikmatan yaitu:

Pertama, Anugerah Persatuan.

Allah subhanahu wata’ala akan menganugerahinya ketenteraman dan ketenangan, menghimpun pikirannya, mengurangi kelupaannya, menyatukan keluarga nya, menambah rasa kasih antara dia dan mereka, memudahkan mereka untuknya, mempersatukan semua kerabatnya, menghindarkannya dari perpecahan dan pemutusan hubungan rahim. Dengan begitu, seluruh dunia bersatu untuknya. Dunia bersatu untuk kepentingannya dan semua apa yang diinginkannya di dalam berbuat ta'at kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ke dua, Anugerah Kaya Hati.

Ini merupakan nikmat yang amat besar yang dianugerahkan Allahsubhanahu wata’ala khusus bagi hamba yang dikehendaki-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl:97).

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan keridhaan dan kepuasan hati yang tidak lain adalah kaya diri dan kepuasannya dengan apa yang dianugerahkan melalui doa yang sungguh-sungguh.

Kekayaan bukan segala-galanya, bahkan terkadang ada orang yang dibuat letih oleh hartanya. Sedangkan orang yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, kita dapati dia selalu ridha, puas diri, bahagia, ceria dan baik jiwanya. Ia tidak tamak kepada dunia dan bekerja sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,"Bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah di dalam mencari (rizki)." Yakni, berusahalah dengan usaha yang diterima, yang dibolehkan di dalam mendapatkan dunia. Janganlah seseorang menjadikannya sebagai ambisi yang menyibukkan dirinya yakni ia habiskan semua waktunya untuk dunia.

Ke tiga, Dunia Datang dan Cinta Kepadanya.

Dunia ini memang aneh; bila anda kejar, ia akan lari tetapi bila anda berpaling darinya, ia akan mengejar anda, dan ini sesuatu yang sudah terbukti. Banyak orang shalih menyebut kondisi mereka dengan dunia, "Kami sibukkan diri dengan urusan dien, lalu dunia pun menyongsong kami."

Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan dunia sebagai ambisinya dan segala sesuatu ia jadikan demi dunia; seperti ridha, marah, senang, benci, ceria, bicara, mencela dan sebagainya, maka orang yang kondisinya demikian akan diberi hukuman oleh Allah subhanahu wata’ala dengan tiga hukuman yang disegerakan:

Pertama, Mencerai-beraikan Persatuannya.

Ia akan menjadi orang yang hatinya tercerai-berai, pikirannya kacau, banyak cemas terhadap urusan-urusan dunia, sekalipun hanya sepele. Harta, keluarga dan tanggungannya membuatnya terpisah, sekalipun mereka berada di hadapan matanya, sebagai akibat dari mementingkan dunia saja.

Ke dua, Dilanda Kefakiran.

Ia tidak pernah merasa puas, sehingga membuatnya selalu berhajat di balik kesenangan dunia dan perhiasannya. Ini tentu saja membuat nya semakin letih, sedih dan cemas. Ia boros terhadap kesenangan dunia dan hal yang bersifat hura-hura, namun amat bakhil di dalam bersedekah dan berbuat kebajikan.

Ke tiga, Dunia Lari Darinya. 

Ia mencarinya namun dunia menjauhinya. Ia berlari mengejar dan meminum darinya seperti orang yang menimba air di laut untuk diminum; namun setiap diminum, ia semakin merasakan haus dan dahaga. 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, "Ambisi dunia adalah kegelapan di hati, sedangkan ambisi akhirat adalah cahaya di hati."

Dalam masalah ini, manusia terbagi kepada tiga jenis:

Pertama, Orang-orang yang dikalahkan oleh ambisi akhirat sehingga mereka bekerja untuk dunia menurut kacamata akhirat dan menyadari bahwa dunia hanyalah jembatan yang membawa mereka sampai ke akhirat.

Ke dua, Orang-orang yang dikalahkan oleh cinta dunia hingga akhirat terlupakan oleh mereka, dan ambisi dunia telah menyibukkan hati mereka.

Ke tiga, Orang-orang yang disibukkan oleh dunia dan juga akhirat. Mereka ini adalah para pencampur-aduk urusan, dan betapa banyaknya manusia tipe seperti ini di zaman sekarang. Mereka berada dalam posisi yang tidak aman bahkan dalam bahaya.

Risalah Bisnis dan Perdagangan


Berdagang pada dasarnya merupakan salah satu pekerjaan yang sangat mulia, bahkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sebagian shahabat beliau adalah para pedagang profesional. Namun di sisi lain Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga memperingatkan kita semua, bahwa tempat terburuk yang dibenci Allah adalah pasar. 

Tentu bukanlah pasarnya yang salah, namun penghuninya, penjual dan pembelinya. Berapa banyak pedagang yang sibuk dengan dagangannya sehingga meninggalkan shalat dan dzikrullah, berapa banyak kecurangan, penipuan, riba dan berbagai kejahatan terjadi di pasar. Dan tentunya masih banyak lagi pola dan sistim pasar yang bertabrakan dengan syariat dipraktekkan di sana, yang penting dapat uang bagaimanapun caranya.

Dalam tulisan ini, akan kami ketengahkan beberapa kiat menjadi seorang pedagang muslim sejati, yang senantiasa memperhatikan norma dan hukum dalam berdagang. Semoga bermanfaat, bukan untuk mereka yang menggeluti dunia dagang saja, namun untuk kaum muslimin semua.

Kenalilah Dunia

Dunia -sebagaimana namanya- adalah sesuatu yang hina dan kecil dihadapan Allah Subhannahu wa Ta'ala, sebagaimana disabdakan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,
Artinya, "Dunia ini terlaknat, terlaknat juga apa yang ada di dalam-nya, kecuali dzikrullah dan segala yang mendukungnya, serta orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya." (HR. At Tirmidzi dan berkata, "Hadits Hasan Shahih”).

Dunia, dengan segala isinya, kekayaan alamnya, keindahannya, hartanya, pencakar langit dan istana-nya, mobil-mobil, barang dagangan, gunung, laut, bahkan langit dan bumi-nya tidaklah sebanding dengan sayap nyamuk di hadapan Allah.

Oleh karena itu mencurahkan perhatian secara total dan sepenuhnya untuk dunia adalah kesalahan yang fatal. Seorang mukmin janganlah berbangga-bangga dengan dunia yang diperoleh dan jangan berduka tatkala kehilangannya.

Dunia, sebagaimana diberitahukan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam adalah penjara bagi orang mukmin dan sorganya orang kafir. Orang mukmin di dunia ibarat sedang dipenjara, menjalankan berbagai ketaatan dan ibadah, mengekang dari segala hal yang haram yang hawa nafsu selalu condong kepadanya. Sedangkan orang kafir menganggap hidup di dunia ibarat di sorga, ia turuti segala kemauannya, bersenang-senang, makan enak dan kenyang, tak peduli halal haram, segala cara ditempuh untuk mendapatkan kesenangan.

Orang mukmin selalu ingat bahwa mereka diciptakan di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, sedangkan orang kafir berpandangan bahwa hidup didunia adalah untuk bersenang-senang saja.

Sungguh mengerikan kalau kita menyadari bahwa kelak kita akan ditanya tentang harta yang kita dapatkan di dunia, dari mana kita peroleh dan ke mana kita belanjakan? Siapkah kita mempertanggung jawab-kan setiap rupiah yang masuk ke kantong kita, setiap suap yang masuk ke dalam perut kita? Sudahkah kita punya jawabannya?

Dunia itu Terbatas

Semua yang kita miliki pasti akan kita tinggalkan, entah hari ini atau besok. Kalau seseorang telah mengumpulkan harta yang begitu banyak dengan cara yang haram atau menumpuknya tanpa mau membelanjakan untuk kebaikan, maka sungguh keru-gian besar atasnya.

Dia capek-capek bekerja, namun ahli waris yang menikmatinya, mereka bergembira dengan harta itu sedangkan dia menderita dengan siksa, mereka tak berperang, namun menikmati harta rampasan. Barulah ketika itu timbul rasa sesal, "Wahai andaikan aku mempersiapkan diri ketika hidup di dunia, andaikan aku berkerja dengan cara yang halal dan mubah, andaikan dulu sebagian hartaku ku gunakan untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, untuk mem-bantu dakwah, membangun masjid, madrasah, andaikan…dan andaikan ini dan itu. Namun hari itu dia hanya bisa gigit jari, menyesali segala perbuatan-nya ketika masih hidup di dunia, ingin rasanya kembali ke dunia tapi …
(Demikianlah keadaan orang- orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucap-kan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibang-kitan.” (QS. 23: 99-100)

Mumpung Masih Ada Kesempatan

Bersyukur, itulah yang layak kita lakukan karena Allah masih memberi-kan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Membuka lembaran baru yang lebih baik dan terang, memperlurus seluruh langkah kehi-dupan. Dan yang penting mengapli-kasikan syukur itu dengan melakukan segala yang diridhai Allah, termasuk menjauhi penghasilan yang haram dan berdagang dengan cara yang dilarang Allah. Beruntung kita ketika dapat memposisikan diri sebagai orang yang telah mati lalu kita memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia dan permohonan kita dikabulkan. Maka apakah kita akan mengulangai seluruh dosa yang kita lakukan ? Apakah tidak selayaknya kita merubah jalan hidup dan perilaku salah kita? Jangan lagi perdagangan melalaikan kita dari ibadah, dzikir dan bersyukur kepada Allah, jangan lagi mengkhianati amanat Allah, dan jangan sampai meninggal-kan tanggung jawab sebagai seorang hamba.

Belajar Dulu Sebelum Berdagang

Seorang yang akan terjun ke dunia dagang maka "wajib ain"atasnya mempelajari fikih perdagangan dan muamalah. Sebab tidak diragukan lagi, bahwa orang yang tidak belajar masalah tersebut kemudian terjun ke dunia dagang dan bisnis, maka sangat mungkin akan terjerumus ke dalam keharaman.

Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu berkata, "Seorang pedagang jika tidak mengetahui hukum, maka akan terjerumus ke dalam riba, tenggelam dan teng-gelam"
Sedangkan Umar bin Khatthab Radhiallaahu anhu mengatakan,"Siapa yang tidak faham masalah agama janganlah sekali-kali berdagang di pasar kami."

Jangan lupa selalu menanyakan kepada para ulama tentang segala permasalahan dagang yang belum jelas agar jangan sampai kita masuk ke area yang tidak hahal. Sebab teori dagang senantiasa berkembang dari hari ke hari, dan para ulama insya Allah akan memberikan wawasan kepada kita tentang mana yang halal dan mana yang haram.

Dasar-Dasar Kesatuan Umat Islam


Sekalipun ummat Islam pada saat ini terpecah belah menjadi berbagai kelompok, aliran, madzhab dan lain-lain, akan tetapi umat Islam memiliki potensi besar untuk bersatu dan menyatukan kembali organ-organ yang terpisah dari tubuhnya, karena pada hakikatnya mereka memiliki prinsip-prinsip yang disepakati, yaitu mereka adalah merupakan umat yang satu, agama mereka sama, yaitu Islam, kitab sucinya sama, dan Nabinyapun sama pula. Inilah dasar-dasar yang disepakati oleh Umat Islam sehingga sebe-narnya tidak sulit bagi Umat Islam untuk bersatu. 

Apabila kita fahami secara mendalam dan kometmen kepada berbagai konsekwensi kesamaan prinsip tersebut, maka kita pasti menjadi satu umat yang utuh, karena pasti bertemu pada titik-titik temu yang sama, yaitu:

1. Kesamaan tujuan hidup, 

yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , sebagaimana firman-Nya:
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat:56). 

Segenap kaum muslimin mengetahui tujuan ini, hanya saja kebanyakan mereka melalaikannya sehingga berpengaruh buruk terhadap sendi-sendi kehidupan mereka. Oleh karena itu kaum muslimin harus mempunyai kebulatan tekad untuk kembali kepada upaya merealisasikan tujuan hidupnya dan konsisten terhadap segala konsekwensinya, agar kebahagiaan dunia dan akhirat yang mereka dambakan dapat direalisasikan. Kebahagiaan di dunia akan terasa bila umat ini telah menjadi satu, ketentraman jiwa dan kelurusan pandangan hidup telah menjadi kenyataan. Akan tetapi apabila tujuan hidup suatu umat telah berbeda antara satu dengan lainnya, maka yang terjadi adalah perpecahan dan pertikaian yang timbul sebagai akibat dari perbedaan jalan dan persaingan untuk mencapai tujuan masing-masing. Maka dari itu Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa jalan hidup yang harus ditempuh kaum muslimin untuk mencapai tujuan hidupnya hanya satu. Allah berfirman:

"dan bahwa (yang Kami perintah-kan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya." (Al-An'am: 153). 

2. Kesamaan aqidah. 

Sesungguhnya perbedaan Aqidah dan keya-kinan yang terjadi di tubuh umat ini telah menyebabkan tidak mungkin bagi umat ini untuk bersatu dan bekerjasama, maka dari itu harus ada upaya terapi terhadap perbedaan aqidah ini, yaitu dengan mengembalikan para tokoh yang menyimpang (mulhidin) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meluruskan segala bentuk penyimpangan aqidah yang terjadi, agar hati dan jiwa umat menjadi satu. Sebenarnya kaum mulhidin itu berada jauh dari kebangkitan Islam dan sedang tergiur dengan kebudayaan Barat yang berkonspirasi bahkan secara terbuka mengibarkan panji perang terhadap Islam.

Saat ini kaum muslimin mulai menyadari dan mengetahui hakikat kebudayaan dan peradaban Barat serta nilai-nilai negatif dan bahaya yang ada di dalamnya. Kesadaran ini timbul dikalangan mereka, dan mereka mengetahui nilai Dinul Islam ini, dan bahwasanya manusia tidak akan mendapat kebahagiaan di dalam kehidupan ini tanpa berpegang teguh kepada Aqidah dan segala konsekwensinya. Dan tentang munculnya kesadaran Umat Islam ini, Ustadz Muammad Mahmud Al-Shawaf berkata: "Di dalam keyakinan saya bahwa era dimana Islam disebut sebagai keterbelakangan dan kemunduran sudah berlalu dan tuduhan-tuduhan palsu musuh-musuh Islam telah terungkap dan ajaran-ajaran batil mereka menjadi makin jelas ... Islam saat ini sedang menjadi harapan, masjid-masjid dan musolla-musolla makin ramai ... Apabila orang-orang shalih semakin banyak dan jumlah kaum muslimin makin bertambah, maka kemenangan ada di tangan umat Islam".

Kesadaran keberagamaan ini memang mulai tumbuh dikalangan umat Islam, namun ia membutuhkan orang yang mengarahkannya kepada arah yang benar agar dapat menjadi satu landasan untuk menyatukan Ummat dan melenyapkan berbagai isme-isme dan segala bentuk kepercayaan yang menyimpang yang masuk kedalam masyarakat kaum muslimin.

Sedangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada sebagian aqidah kaum muslimin, apakah itu di dalam tauhid praktis ataupun di dalam tauhid teoritis juga membutuhkan kesungguhan yang tulus dan pena yang arif yang dapat menanggulangi penyimpangan-penyimpangan tersebut dengan hikmah dan mau'izhah hasanah, karena kebanyakan penyimpangan yang terjadi itu bukan karena kesengajaan pelakunya, dan sebenarnya mereka tidak rela dengan penyimpangan tersebut jika argumentasinya pas bagi mereka, maka dari itu, dalam menghadapi mereka harus dan wajib menggunakan pendekatan yang lembut dan dialog dingin. Dan apabila umat Islam telah dapat menyatukan aqidah dan keyakinannya, maka ini merupakan dasar utama bagi kesatuan dan persatuan ummat.

3. Kesamaan pemimpin. 

Kaum muslimin hanya memiliki satu kepemimpinan sepanjang zaman, sekalipun tempat dan madzhab mereka berbeda-beda, yaitu kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam . Setiap kepemimpinan yang lain yang ada di dalam tubuh Umat ini, maka sebenarnya berjalan diatas legalitas dan prinsip kepemimpinan Nabi Shallallahu alaihi wasalam . Kenyataan ini akan semakin jelas di dalam benak kaum muslimin bila aqidah dan iman mereka makin jernih dan kuat dan merupakan kenyataan yang ditetapkan oleh Allah dan ditekankan di dalam Al-Qur'an pada beberapa ayatnya agar tidak dilalaikan oleh Umat Islam, seperti di dalam firman-Nya, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulilamr diantara kamu; Kemudian jika kamu berlain pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya." (Ali Imran :59). Dan firman-Nya, yang artinya: "Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (al-Hasyr :7).

Demikianlah penekanan terhadap kenyataan ini diulang-ulang berpuluh kali di dalam Al-Qur'an, yang apabila sudah mantap dan jelas di dalam hati kaum muslimin, maka sangat mungkin persatuan, kesatuan dan kesatu-paduan barisan mereka terwujudkan.

Jadi, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam adalah pemimpin, sedakan yang lain adalah pengikut dan pembelanya. Dia dijadikan teladan, kebijakan dan sunnahnya dijadikan pegangan. Umat Islam tidak mungkin bersatu bila tidak mengetahui dan konsisten kepada prinsip dasar tersebut....dan ini pulalah konsekwensi iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , dan jika tidak, maka iman hanyalah omong kosong belaka! Maka setiap kepemimpinan yang berupaya menanggalkan kepe-mimpinan Rasul tersebut atau merendahkan kedudukannya, maka sesungguhnya ia adalah kepemimpin-an yang keluar dan memusuhi Islam... Bahkan setiap kepemimpinan yang anti atau menyimpang dari tuntunan kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang sesat!

4. Kesamaan sumber ajaran. 

Diantara faktor utama bagi perpecahan umat Islam adalah adanya perbedaan sumber ajaran atau sumber hukum yang tidak ada tautannya dengan Islam, bahkan sebenarnya memusuhi aqidah Islam, maka terjadilah jurang pemisah antara sumber hukum dengan realitas, antara berbagai kepemimpian dengan rakyatnya, bahkan antar kepemimpin-an itu sendiri, dan implikasinya menimpa umat Islam. Selagi sumber ajaran dan hukum yang mengatur umat ini tidak sama dan tidak bersumber dari agamanya, maka setiap upaya untuk menyatukan kembali umat ini adalah mimpi belaka! Di dalam masyarakat Islam hanya terdapat satu sumber ajaran dan hukum (perundang-undangan), dan manusia, siapapun dia sama sekali tidak mempunyai hak untuk membuat sumber ajaran dan perundang-undangan. Membuat aturan dan hukum adalah hak Allah semata, dan tidak benar manusia mengambil hukum di luar hukum Allah! Allah menegaskan, yang artinya: "Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak pula bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. (Al-Ahzab: 36).

Jiwa dan tabiat manusia sangat beragam dan berbeda-beda sedangkan untuk mengetahui batasan-batasan islah dan faktor-faktor perusaknya adalah merupan sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah saja; bahkan para ilmuwan Barat telah mengakui ketidak mampuan mereka dalam mengungkap hakikat manusia, sebagaimana dinyatakan oleh ahli kedokteran asal Prancis Karyel!

Apabila manusia tidak mampu untuk mengenal hakikat manusia, maka bagaimana mungkin ia dapat membuat suatu produk hukum yang mengatur kehidupan manusia dan menggiringnya untuk merealisasikan kemanusiaannya!? Oleh karena itu, kembali kepada Syari'at (ajaran, perundang-undangan) Allah adalah merupakan tuntutan dan perkara yang niscaya. Niscaya karena diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala , dan niscaya karena manusia tidak memiliki kemampuan membuat hukum dan peraturan yang tepat lagi sesuai! Dan Niscaya, karena ummat tidak mungkin bersatu bila undang-undang atau aturan hidupnya berbeda-beda. Oleh karena itu diperlukan adanya kesatuan sumber hukum dan undang-undang, agar pandangan hidup, aturan main dan idiologinya menjadi satu, yang pada gilirannya kesatuan dan persataun yang didambakan dapat terealisasikan. 

Shahabat Nabi SAW Meluruskan Penyelewengan


Meluruskan penyeleweng dan membela agama Allah termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama, karena di sini terdapat perjuangan besar untuk menegakkan yang haq, menumbang-kan penyelewengan, menyingkap tabir syubhat dan sekaligus nasehat kepada kaum muslimin, mencintai dan membela mereka. 

Para shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam selaku orang-orang yang paling dalam ilmunya, paling sempurna pengetahuannya tentang apa yang dinamakan kebaikan dan keburukan, dan paling faham tentang tingkatan amal shaleh mereka semua memberikan perhatian serta perjuangan yang besar dan perilaku yang terpuji dalam melawan kebid'ah-an dan membela Sunnah Nabawiyah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah: "Para shahabat adalah orang yang paling besar keimanan dan perjuangannya dibanding orang-orang yang setelahnya, hal ini karena kesempurnaan pengetahuan dan rasa cinta mereka terhadap kebaikan, juga karena fahamnya mereka terhadap keburukan serta kebencian mereka terhadapnya". Sampai pada ucapan beliau: "Demikian pula orang yang pernah terjun dan berkecimpung bersama ahli bid'ah dan maksiat, lalu Allah memberinya petunjuk sehingga bertaubat dan memberinya kekuatan untuk berjuang di jalanNya, maka perjuangan dan segala usaha untuk menjelaskan keburukan yang pernah ia lakukan dan memeranginya adalah lebih utama dibanding selainnya. Berkata Na'im bin Hammad Al-Khaza'i seorang yang sangat anti Jahmiyah: "Aku adalah orang yang sangat keras terhadap mereka, karena dulunya aku bagian dari mereka." ( Majmu' Al-Fatawa 10/301, 303).

Metode Shahabat Dalam Meluruskan Penyeleweng

1. Meniru cara dan sikap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam dalam menghadapi penyeleweng.

Ini ditunjukkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallaahu anhu , bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam keluar rumah sedangkan orang-orang ketika itu sedang memperbincangkan masalah qadar (takdir), maka spontan saja merahlah muka beliau seperti rona buah delima yang merekah karena kemarahan yang besar, lalu bersabda:
"Ada apa kalian semua ini, saling mempertentangkan kitabullah antara yang satu dengan yang lain? Karena masalah inilah orang-orang sebelum kalian menjadi celaka!" Berkata Abdullah bin Amr: "Maka tiadalah keinginan bagiku untuk tidak menghadiri majlis Rasulullah selain daripada majlis ini, rasanya ingin aku untuk tidak berada ditempat itu". [HR Ahmad 2/78, Ibnu Majah (85)].

Cara ini ditiru oleh Abdullah bin Umar bin Khathab Radhiallaahu anhu tatkala sampai kepadanya perihal sekelompok orang yang ingkar takdir maka iapun marah besar, hingga perawi mengatakan: "Andai saja aku tidak menanyakan hal ini kepadanya"(Ushul-Al Lalikai 3/588).

Demikian pula Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu ketika diberitahu tentang seorang yang mendustakan takdir ia langsung berkata: "Tunjukkan kepadaku orang itu!" Padahal waktu itu beliau dalam keadaan buta, maka orang-orang lalu bertanya: "Apa yang mau anda lakukan terhadap orang tersebut?" Beliau menjawab: "Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya jika aku mampu maka akan aku gigit hidungnya hingga putus atau kalau aku bisa memegang lehernya maka aku akan memukulnya". (Ushul Al Lalikai 3/625 dan As Sunnah Abdullah bin Imam Ahmad 2/416).

2. Ketika meluruskan penyeleweng tergabung dalam diri para shahabat antara ilmu dan amal dengan cinta dan belas kasih.

Abu Umamah Al Bahiliy salah seorang yang selalu mengatakan kebenaran dan penyayang terhadap sesama makhluk, suatu ketika ia meli-hat tujuh puluh kepala orang Khawarij yang terpenggal dan diletakkan di tangga-tangga kota Damaskus, ia teriakkan kebenaran di hadapan orang-orang: "Subhanallah! Apa yang diperbuat oleh syetan untuk menyesatkan anak Adam, anjing-anjing Jahannam, benar-benar suatu kematian yang buruk dan tragis!" Lalu ia berkata kapada salah seorang temannya : "Sungguh kamu berada di bumi yang banyak dihuni oleh orang-orang seperti mereka, mudah-mudahan Allah men-jagamu dari mereka", lalu ia menangis seraya mengatakan: "Aku menangis karena kasihan kepada mereka yaitu ketika aku melihat mereka dulunya adalah orang Islam." (Al Fath Ar Rabbaniy-As Sa'aty 23/160, As Sunnah-Abdullah bin Imam Ahmad 2/644, Al I'tisham-Asy Syatibi 1/71-73, Al Adab Asy Syar'iyyah-Ibnu Muflih 2/24).

3. Seia sekata dalam masalah aqidah dan selainnya baik lafal maupun makna.

Tidak terlihat di antara mereka perselisihan pendapat sehingga ketika mereka ditanya tentang suatu masalah maka jawaban yang mereka berikan rata-rata sama. Sebagai contoh apa yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Ad Dailamiy, ia berkata: "Aku pernah mendatangi Ubay bin Ka'ab dan bertanya: "Wahai Abul Mundzir! Sungguh di hatiku ada yang mengganjal dari perkara takdir, maka sampaikanlah kepadaku sesuatu yang dengannya mudah-mudahan Allah melenyapkan keraguanku itu!" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala jika mengadzab penduduk langit dan bumi maka Dia mengadzabnya dengan tanpa menzhalimi sedikitpun, dan jikalau mencurahkan rahmatNya maka rahmatNya itu lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Meskipun kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud dijalan Allah maka Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman terhadap takdir dan engkau tahu bahwa apa saja yang menimpamu pasti tidak akan meleset dan apa saja yang luput darimu pasti tidak akan menimpa, jikalau kamu mati tidak dalam keadaan demikian maka akan masuk neraka, cobalah kau tanyakan masalah ini kepada Ibnu Mas'ud! Maka aku mendatangi Abdullah Ibnu Mas'ud dan ternyata jawaban yang diberikan sama, lalu Ibnu Mas'ud berkata: "Datanglah kamu kepada Hudzaifah Ibnul Yaman"! Maka akupun mendatanginya dan bertanya ternyata jawabannya juga sama seperti tadi, Hudzaifah lalu berkata: "Temuilah Zaid bin Tsabit!" maka akupun mendatanginya dan dijawab olehnya sebagaimana jawaban di atas. (Riwayat Ahmad 5/182), lihat juga As Sunnah –Abdullah bin Imam Ahmad 2/388 dan Ushul Al Lalikai 3/612, 673.

4. Ilmu yang mendalam merupakan dasar untuk menyikapi orang-orang yang menyimpang.

Sehingga kalimat yang disampaikan meskipun terlihat ringkas namun mengandung banyak pengertian dan faidah, dan di sini nampak sekali keluasan sikap dan keadilan mereka dalam menyikapi persoalan demi persoalan. Ini sebagaimana yang terungkap dari ucapan shahabat Umar ra dalam menyikapi orang Nashara ia berkata: "Hinakanlah mereka dan jangan menzhalimi mereka, sungguh mereka telah mencela Allah dengan celaan yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun". (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim ta'liq Muhammad Afifi 2/398). Dalam hal ini ucapan beliau "Hinakanlah mereka" menunjukkan sikap bara' dan benci kepada orang kafir. Sedangkan ucapan beliau, "Janganlah menzhalimi mereka" menunjukkan sikap adil terhadap mereka.

Maka di sini shahabat Umar mem-bedakan antara pergaulan secara baik terhadap orang kafir dengan sikap benci terhadap mereka yang mana kedua hal ini tidak boleh bercampur jadi satu, maksudnya jangan sampai sikap adil terhadap mereka menyebabkan cinta dan wala', begitu pula jangan sampai kebencian dan permusuhan kita menyeret kepada perilaku zhalim dan melampaui batas.

5. Para shahabat menyikapi para penyimpang berlandaskan ketajaman pemikiran dan ketelitian pemahaman.

Sebagaimana diriwayatkan bahwa Atho' bin Yassar pernah bertanya kepada Sa'id Al Khudhriy tentang Haruriyah (Khawarij), ia bertanya : "Pernahkah Anda mendengar Rasulullah menyebut-kan tentangnya? "Abu Sa'id menjawab: "Aku tidak tahu persis siapa Haruriyah itu. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Akan muncul di tengah-tengah umat ini suatu kaum yang kalian merasa bahwa shalat kalian sangat sedikit dibanding shalat mereka (padahal mereka sedang keluar dari jama'ah Islam)".

Di sini Abu Sa'id mengucapkan sesuai dengan apa yang disabdakan Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam yaitu dengan mengatakan fi hadzihil ummah (di tengah-tengah umat ini), bukan min hadzihil ummah (dari umat ini). Kalau saja ia mengucapkan itu dengan menggunakan min (dari) maka maknanya akan sangat jauh berbeda.

Di dalam Shahih Muslim juz 7 hal 164 Al-Maziri berkata: "Ini menunjukkan luasnya ilmu para shahabat Radhiallaahu anhum, kejelian pandangan mereka dan ketepatan dalam meredaksikan suatu kalimat. Perbedaan dari makna yang tersembunyi ini ialah jika menggunakan min maka menunjukkkan bagian dari umat ini bukan kafir, lain halnya kalau fi.

6. Menghubungkan suatu bid'ah dan penyimpangan dengan millah/agama sebelumnya.

Ini merupakan bukti keluasan ilmu dan cakrawala berpikir para shahabat, sebagaimana apa yang pernah disampaikan oleh Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu : "Berhati-hatilah kalian terhadap Al Irja' karena ia merupakan bagian dari pemikiran Nashara!"(Al Lalikai 3/631).

Dan sudah tidak asing lagi bahwa suatu bid'ah biasanya punya kaitan dengan kelompok/millah yang lain sebab pemikiran itu tidak pernah mati dan tiap-tiap kaum ada pewarisnya. Adapun yang menjadi titik temu dari dua kelompok ini -wallahu a'lam- adalah bahwa orang-orang Nashara menganggap diri mereka kekasih dan anak Allah, sebagaimana juga orang-orang murji'ah mengaku bahwa mereka adalah orang mukmin yang sempurna imannya meskipun banyak melakukan kefasikan dan maksiat. Oleh karenanya orang murji'ah menganggap biasa saja meninggalkan kewajiban dan menerjang keharaman dengan anggapan bahwa iman mereka tetap masih sempurna dan utuh sebagaimana Nashara yang tidak mengenal najis dan haram serta enggan melakukan kewajiban.

(Disarikan dari Maqalat fi aqidah ahlus sunnah wal jama'ah, karya Dr. Abdul Aziz bin Muhamamd Alu Abdul Lathif.( Dept. Ilmiah ) 

Nabi Sulaiman, Pemimpin Negara Yang Shalih


Diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, dia memberitakan bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, artinya, 
"Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mempunyai sebanyak enam puluh orang isteri. Suatu ketika, dia berkata, "Pada malam ini aku akan menggauli semua isteriku, sehingga semuanya akan hamil dan melahirkan seorang anak lelaki yang hebat dalam menunggang kuda (tentara berkuda) untuk berjihad di jalan Allah. Ternyata mereka (isterinya itu) semua tidak mengandung kecuali seorang saja, itu pun hanya melahirkan anak yang cacat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau Nabi Sulaiman alaihissalam mengecualikan (berkata Insya’Allah) maka setiap isterinya akan melahirkan seorang anak lelaki yang hebat dalam menunggang kuda untuk berjihad di jalan Allah." (Shahih al-Bukhari)

Dalam riwayat lain lagi, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhumemberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, artinya,
"Ada dua orang wanita sedang bersama dengan anak mereka masing-masing, tiba-tiba seekor serigala melarikan anak salah seorang di antara mereka. Seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, "Yang dilarikan serigala itu adalah anakmu?" Yang seorang lagi mengatakan, "Tidak, anakmulah yang telah dibawa itu?" Lalu mereka berdua meminta pengadilan kepada Nabi Daud ‘alaihissalam, maka Nabi Daud ‘alaihissalam memenangkan yang lebih tua. Kemudian keduanya menghadap Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam lalu menceritakan perkara yang telah terjadi, maka Nabi Sulaiman berkata, "Ambilkan pisau, aku akan membelah anak ini untuk kamu berdua.” Wanita yang lebih muda berkata, "Janganlah engkau lakukan itu, semoga Allah merahmatimu, anak ini adalah anaknya.” Maka Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa anak itu milik wanita yang lebih muda." (Shahih al-Bukhari)

Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari dua hadits di atas adalah bahwa hendaknya kita tidak memastikan untuk merencanakan sesuatu tanpa mengatakan insya’Allah. Juga tentang kecerdikan dan keadilan Nabi Sulaiman di dalam memutuskan perkara serta gambaran bagaimana mudahnya rakyat untuk bertemu penguasa ketika ada sebuah keperluan, tanpa melewati birokrasi dan prosedur yang berliku-liku.

Banyak kisah tentang Nabiyullah Sulaiman ’alahissalam yang selama berabad-abad menjadi misteri ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah kemampuannya berbicara dengan hewan. Al-Qur'an memberitahukan bahwa pada suatu ketika, Nabiyullah Sulaiman’alahissalam mendengar percakapan semut. Bagaimana beliau dapat memahami percakapan semut dan bagaimana ia tahu bahwa Nabi Sulaiman ’alahissalam dan pasukannya akan melewati pemukiman semut-semut itu, ilmu pengetahuan modern belum berhasil mengungkapnya. Namun karena yang memberitahu kan adalah al-Qur’an, kita wajib mempercayainya. Tentang hikmah yang terkandung di dalam kisah Nabi Sulaiman ’alahissalam ini, Allah Ta’ala berfirman,
"Semua kisah para Rasul, Kami ceritakan kepadamu; yaitu kisah-kisah yang dengannya, Kami teguhkan hatimu; telah datang kepadamu kebenaran (al-haq) serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS Hud : 120)

Dari firman Allah ini dapat diketahui bahwa salah satu hikmah Allah mengisahkan perjuangan para Nabi dan Rasul Allah, termasuk Nabi Sulaiman ’alahissalam adalah untuk meneguhkan hati. Kisah Nabi Sulaiman ’alahissalam, misalnya, kalau diperhatikan secara mendalam, banyak sekali pelajaran berharga yang diperoleh di dalamnya. Nabi Sulaiman adalah salah seorang putra Nabi Daud’alahissalam, yang menonjol di antara saudara-saudaranya dalam hal kebaikan, kecerdasan serta kealiman. Allah menganugerahinya banyak kelebihan. Dalam usia muda, Sulaiman telah memberi saran terhadap ayahnya menyangkut persoalan masyarakat. Pada usia dewasa, dialah yang ditunjuk menjadi raja menggantikan sang ayah.

Nabi Sulaiman ’alahissalam menjadi raja bukan karena politik uang (money politics), bukan pula dengan mengemis-ngemis agar diberi jabatan. Juga tidak melalui sistim pemilihan yang curang atau setelah berkoalisi dengan pihak yang curang. Salah satu keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepadanya ialah wilayah kekuasaannya mencakup masyarakat jin. Artinya rakyat Nabi Sulaiman’alahissalam bukan hanya manusia, tetapi juga bangsa jin, bahkan hewan, termasuk Hudhud, (sejenis burung). Dan Nabi Sulaiman’alahissalam dalam hal ini dapat berkomunikasi dengan baik dengan bangsa jin dan binatang itu.

Dikisahkan dalam al Qur’an (silakan buka surah an-Naml 15-44), bahwa pada suatu hari Nabi Sulaiman ’alahissalam mengumpulkan pasukannya yang terdiri dari manusia dan jin serta binatang. Hudhud, si burung terlambat datang. Ketika Nabi Sulaiman menegurnya, burung itu beralasan bahwa dirinya baru datang dari negeri Saba, kini berada di sekitar wilayah Yaman. Hudhud memberitahukan bahwa Saba adalah negeri makmur yang diperintah seorang ratu bernama Bilqis (Bulqais). Seperti diketahui, Nabi Sulaiman ’alahissalam, selain Nabi, sekaligus juga penguasa, yang untuk ukuran masa kini dapat dikatakan presiden. Maka begitu Hudhud menginformasikan kepadanya bahwa Ratu Saba' menyembah matahari dan bukan beribadah kepada Allah, Sulaiman ’alahissalam yang penguasa itu langsung tampil mencegahnya. Bahkan dengan nada cukup berani dan tegas, ia memerintahkan sang Ratu masuk Islam, walau pun pada awalnya hanya melalui sepucuk surat da'wah. Isinya adalah seruan untuk takluk dan mengikuti jalan Islam yang ditempuh Sulaiman. Terjemahan isi surat da'wah yang beliau tulis ialah, "Dari Sulaiman.Bismillaahirrahmaanirrahim. Janganlah Anda (hai Ratu Saba') bersikap sombong terhadap Saya, dan datangilah saya dalam keadaan Muslim..."

Melalui surat da'wahnya itu, Nabi Sulaiman ’alahissalammemerintahkan sang Ratu agar bersedia menjadi Muslim atau masuk Islam. Semula Bilqis menolak dengan mengirim utusan yang membawa hadiah untuk Nabi Sulaiman ’alahissalam. Namun Nabi Sulaiman ’alahissalam menolak hadiah itu dan menyuruh sang utusan membawanya kembali. Mungkin merasa penasaran dengan cerita kejayaan kerajaan Sulaiman, Bilqis berencana akan mengunjungi kerajaan Bani Israel itu. Dewan Penasihat Kerajaan ternyata tak melarang rencana sang Ratu.

Mengetahui rencana kunjungan itu, Nabi Sulaiman ’alahissalambermaksud membuat kejutan. Ia membuka sayembara di kalangan rakyatnya untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke istananya. Jin yang disebut bernama Ifrit menawarkan diri melakukan tugas itu. Namun Jin itu dikalahkan manusia. Seorang alim mampu memindahkan singgasana tersebut dalam sekejap mata, fantastis kedengarannya. Maka, ketika Bilqis tiba di Istana Sulaiman’alahissalam, ia terkejut, heran dan terkagum-kagum melihat istana Nabi Sulaiman ’alahissalam. Kemegahan istana tersebut tercermin pada kilau lantainya yang membuat Bilqis terperangah. Ia mengangkat kain panjangnya, menyangka kilauan itu adalah air. Al-Qur’an sengaja tidak mengungkapkan secara detail tentang peristiwa itu dan kronologis da’wah yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman’alahissalam terhadap Ratu Saba’. Al-Qur’an hanya mengisahkan bahwa da'wah Nabi Sulaiman ’alahissalam terhadap sang Kepala Pemerintahan yang bernama Bilqis atau Bulqais itu rupanya berhasil akurat. Sang Ratu akhirnya masuk Islam di hadapan sang raja. Andaikata Nabi Sulaiman ’alahissalam bukan seorang Nabi dan Penguasa, belum tentu sang Ratu sudi dida'wahi dan masuk Islam.

Kalau saja Nabi Sulaiman ’alahissalam orang biasa, bukan Nabi dan bukan pula seorang Raja, ada kemungkinan, ia tak berani mengirimkan surat setegas dan seberani itu kepada seorang penguasa seperti Ratu Saba’. Banyak sekali Da'i yang bukan penguasa tak dapat berbuat apa-apa ketika di depan matanya, ia menyaksikan suatu kemungkaran, yang sangat perlu diubah. Bukan tak mau tampil mencegahnya, tetapi kekuatan dan kekuasaan untuk itu tidak ada pada dirinya. Yang dapat dilakukannya ketika menyaksikan kemungkaran di depan matanya itu paling hanya membencinya dan berdoa di dalam hati agar Allah memperbaiki kemungkaran itu.

Ini artinya, presiden atau penguasa yang mempunyai jiwa da’wah alias shalih sangatlah perlu. Atau Muslim yang hatinya benar-benar merasa bertanggungjawab menda'wahi rakyat, jika mampu maka perlu untuk menjadi pemimpin. Sekali lagi, yang penting ialah hatinya merasa bertanggung jawab terhadap kelancaran da'wah, dan bukan predikat serta gelar yang disandang di depan namanya.

Alangkah beruntungnya umat Islam Indonesia, kalau mempunyai pemimpin, yang bukan hanya sekedar merupakan Kepala Pemerintahan, tetapi sekaligus mau tampil sebagai da'i dalam arti yang sebenarnya, dan bukan da'i yang hanya sekedar naik turun podium berceramah, dan bukan pula manusia yang di depan namanya tercantum predikat atau gelar tertentu, tetapi hatinya sama sekali tak mau menegakkan kebenaran Islam. Sebab sudah maklum bahwa anjuran orang yang berpredikat presiden atau seorang penguasa akan didengarkan orang. Berbeda dengan da'i pada umumnya yang bukan seorang pemimpin pemerintahan. Kalangan elit bukan saja enggan mendengarkan, bahkan mungkin 'alergi'. Sebab, salah satu kecenderungan orang ialah lebih tertarik kepada penampilan lahir daripada kualitas ruh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa jihad yang paling utama ialah mengemukakan yang haq di hadapan penguasa zalim. Yang namanya da'i atau siapa yang faham Islam, tentu tahu hadits ini. Namun ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim, sedikit sekali da'i yang dapat melakukan nahi munkar terhadapnya. Dan kalau sang penguasa yang zalim itu memberinya hadiah, maka jarang da'i yang berani menolaknya. Apa lagi kalau secara ekonomi, sang da'i miskin, sedang 'aqidahnya tidak terlalu tegar.

Tetapi keadaan mungkin tidak akan demikian, kalau sang da'i adalah seorang penguasa atau pemimpin. Ketika Nabi Sulaiman’alahissalam sebagai penguasa memberikan ultimatum kepada ratu Saba', agar menemuinya untuk masuk Islam, dengan catatan, kalau tidak, Nabi Sulaiman ’alahissalam akan memerangi negerinya, maka sang Ratu mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman ’alahissalam, dengan tujuan untuk menguji siapa Sulaiman sebenarnya, benarkah Nabi atau bukan. Karena pada umumnya seorang raja akan senang jika ada negeri lain yang memberinya hadiah atau upeti. Tetapi Nabi Sulaiman ’alahissalam tak mau melakukan perbuatan hina seperti itu. Sebab ia seorang penguasa, mempunyai harta banyak, dan seorang hamba Allah yang beriman teguh dan berjiwa besar. Maka seorang penguasa yang berjiwa da’wah sangat dibutuhkan untuk kepentingan ummat dan da'wah islamiyah. Lain halnya kalau motivasi menjadi penguasa itu hanya semata-mata ingin menjadikan jabatan itu sebagai komoditi nonmigas untuk memperkaya diri sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.